Kemuning Biutak, Sergap24.info —
Gelombang kemarahan warga Desa Kemuning Biutak akhirnya meledak ke ruang publik. Ratusan masyarakat turun ke jalan dan membentangkan spanduk raksasa berisi 10 tuntutan keras kepada PT NAA yang dinilai selama ini mengabaikan berbagai komitmen terhadap masyarakat setempat.
Aksi yang berlangsung di kawasan Kemuning Estate itu menjadi puncak akumulasi kekecewaan warga terhadap persoalan kemitraan, sengketa lahan, transparansi perusahaan, hingga minimnya manfaat yang dirasakan masyarakat dari keberadaan investasi perkebunan di wilayah mereka.
Dalam spanduk besar yang dibawa massa, warga menagih janji lama yang disebut belum pernah direalisasikan sejak masa PT ARRTU hingga perusahaan beralih ke PT NAA. Mereka menuntut penyelesaian berbagai persoalan yang selama bertahun-tahun dinilai menggantung tanpa kepastian.
10 TUNTUTAN YANG MENGGUNCANG PT NAA
Warga secara terbuka mendesak perusahaan untuk:
- Merealisasikan komitmen kemitraan yang dijanjikan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
- Menyelesaikan sengketa tumpang tindih lahan yang belum tuntas sejak era PT ARRTU.
- Membuka secara transparan data GRTT pembebasan lahan yang selama ini dipertanyakan warga.
- Merealisasikan janji lahan TKD seluas 6 hektar yang hingga kini belum jelas nasibnya.
- Mengevaluasi total program CSR yang dinilai tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat.
- Memprioritaskan putra-putri daerah dalam perekrutan tenaga kerja.
- Menjelaskan secara terbuka batas konservasi di sepanjang aliran sungai.
- Meninjau kembali kebun-kebun masyarakat yang masuk dalam areal HGU perusahaan.
- Segera membangun Jembatan Permanen Bagan Duku'k yang telah lama disepakati.
- Memberikan dukungan nyata terhadap kegiatan adat masyarakat yang selama ini dianggap minim.
Spanduk aksi ditutup dengan kalimat tegas:
"Demi Keadilan, Transparansi dan Kesejahteraan Masyarakat Desa Kemuning Biutak. Kami Bersatu, Kami Bersuara, Kami Menuntut Hak Kami!"
KEPALA DESA: JANGAN TUTUP MATA TERHADAP ASPIRASI WARGA
Kepala Desa Kemuning Biutak menegaskan aksi tersebut bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat panjangnya proses penyampaian aspirasi yang dinilai tidak menghasilkan langkah konkret dari pihak perusahaan.
«"Ini adalah puncak kekecewaan masyarakat. Pemerintah desa berdiri bersama warga untuk memperjuangkan hak-hak yang selama ini dituntut. Kami meminta PT NAA membuka ruang dialog yang jujur dan segera menindaklanjuti berbagai kesepakatan yang sudah pernah dibicarakan," tegasnya.»
TOKOH MASYARAKAT KECEWA: PIMPINAN PERUSAHAAN TIDAK HADIR
Ketegangan semakin meningkat ketika massa mendatangi kantor Kemuning Estate untuk menyerahkan dan mempertanyakan surat tuntutan. Namun menurut Ahmad Kurniawan, pimpinan perusahaan yang ingin ditemui warga tidak berada di lokasi.
«"Masyarakat datang dengan harapan mendapatkan jawaban langsung, tetapi pimpinan perusahaan tidak hadir. Yang menemui hanya manajer. Tentu masyarakat kecewa karena persoalan yang kami bawa menyangkut nasib warga dan sudah berlangsung lama," ujarnya.»
Ahmad menegaskan bahwa masyarakat memberikan waktu tiga hari kepada perusahaan untuk memberikan jawaban dan langkah nyata.
«"Jika dalam tiga hari tidak ada respons yang jelas, masyarakat siap melakukan pemotalan atau blokade jalan negara sebagai bentuk protes lanjutan."»
SOAL LAHAN, CSR DAN HGU JADI SOROTAN TAJAM
Dalam orasinya, warga juga mempertanyakan kejelasan data pembebasan lahan, status lahan yang diklaim masyarakat, hingga transparansi batas HGU dan IUP perusahaan.
Mereka menilai persoalan tersebut tidak pernah dijelaskan secara terbuka sehingga memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Selain itu, program CSR perusahaan juga menjadi sasaran kritik karena dianggap belum memberikan dampak signifikan terhadap kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pembangunan infrastruktur desa.
TENAGA KERJA LOKAL DAN DANA ADAT DIPERTANYAKAN
Ahmad Kurniawan juga menyoroti minimnya keterlibatan tenaga kerja lokal di lingkungan perusahaan.
«"Putra daerah yang bekerja di Estate Kemuning dan Padang Muda jumlahnya sangat sedikit. Masyarakat ingin perusahaan lebih memprioritaskan warga sekitar yang selama ini hidup berdampingan dengan operasional perusahaan."»
Ia juga mempertanyakan minimnya dukungan perusahaan terhadap kegiatan adat masyarakat.
«"Nilai investasi perusahaan sangat besar, tetapi bantuan untuk kegiatan adat masih sangat minim. Ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat."»
ULTIMATUM TERBUKA
Aksi ditutup dengan ultimatum keras dari masyarakat. Warga menegaskan bahwa mereka masih membuka ruang dialog, tetapi menuntut langkah nyata, bukan sekadar janji.
Jika dalam tenggat waktu tiga hari tidak ada respons yang dianggap memadai, massa menyatakan siap menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT NAA belum memberikan pernyataan resmi terkait 10 tuntutan yang disampaikan warga Desa Kemuning Biutak.

.png)

