Sergap24.info –
Minggu 22/3/2026 Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi kita kesempatan merasakan manisnya iman di bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang telah menuntun kita menuju jalan kebaikan.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hari ini kita berdiri di satu persimpangan rasa…
Di satu sisi, ada kebahagiaan menyambut Syawal.
Namun di sisi lain, ada kesedihan yang mungkin tak semua kita sadari—kesedihan karena Ramadhan telah pergi meninggalkan kita.
Ramadhan… bulan yang begitu lembut kepada kita.
Di bulan itu, kita yang jarang shalat jadi rajin bersujud.
Kita yang jarang membaca Al-Qur’an, tiba-tiba akrab dengan ayat-ayat Allah.
Air mata yang mungkin lama kering, kembali jatuh dalam doa-doa malam.
Lalu hari ini… Ramadhan pergi.
Pertanyaannya bukan hanya: apa yang kita rasakan?
Tetapi: apa yang tersisa dalam diri kita setelah ia pergi?
Apakah hati kita masih selembut saat Ramadhan?
Apakah lisan kita masih terjaga seperti kemarin?
Apakah kita masih merindukan sujud panjang di sepertiga malam?
Saudara-saudaraku,
Tak semua orang yang bertemu Ramadhan, berhasil 'menyimpan' Ramadhan di dalam hatinya.
Banyak yang hanya melewati, tapi sedikit yang berubah.
Syawal datang bukan sekadar membawa hari raya.
Ia datang membawa sebuah pertanyaan besar:
*Apakah engkau benar-benar berubah… atau hanya ikut suasana?*
Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi kenangan indah, tapi tidak meninggalkan bekas dalam kehidupan kita.
Kalau dulu kita menangis karena takut kepada Allah, jangan biarkan hari ini kita kembali tertawa dalam kelalaian.
Kalau dulu kita begitu mudah bersedekah, jangan biarkan hari ini hati kita kembali keras.
Kalau dulu kita merasa dekat dengan Allah, jangan biarkan jarak itu kembali melebar.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Mungkin ini Ramadhan terakhir kita…
Dan kita tidak pernah tahu, apakah kita akan diberi kesempatan lagi untuk bertemu dengannya.
Maka jangan “ucapkan selamat tinggal” pada Ramadhan dengan kelalaian,
Tapi “iringi kepergiannya” dengan janji dalam hati:
Aku akan tetap berjalan di jalan ini… meski Ramadhan telah pergi.
Biarlah Syawal menjadi saksi…
Bahwa kita bukan hamba musiman,
Tetapi hamba yang ingin istiqamah sampai akhir kehidupan.
Akhirnya, mari kita berdoa dengan penuh harap
Insya Allah menerima semua amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan tidak menjadikan Ramadhan sebagai perpisahan terakhir antara kita dan rahmat-Nya.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
W assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)

.png)

