Muara Wahau,sergap24.info –
Perjuangan seorang ayah demi kesembuhan anaknya kembali membuka tabir persoalan pelayanan kesehatan di lingkungan perusahaan. Selasa (24/2/2026) pagi, Samsul, karyawan Melenyu 2 Afdeling LA, harus menempuh perjalanan hampir tiga jam menuju SP 4 demi mendapatkan pengobatan yang ia nilai lebih manusiawi.
Berangkat pukul 05.35 WIB dari Melenyu 2 Afdeling LA, Samsul mengendarai sepeda motor tuanya di tengah kondisi cuaca yang tak bersahabat. Hujan yang turun berkala membuatnya beberapa kali berhenti untuk berteduh, menjaga agar anaknya yang sedang panas dingin tidak semakin drop. Tepat pukul 08.52 WIB, ia akhirnya tiba di SP 4 untuk berobat di praktik dr. Jeri Mulia.
“Saya rela kehujanan, yang penting anak saya sembuh,” ujar Samsul kepada Tispran Kelana, awak media dari MabesNews.
Di lokasi praktik, anak Samsul ditangani oleh dr. Nirma. Dokter tersebut langsung memeriksa kondisi pasien dan menanyakan riwayat obat yang telah dikonsumsi.
“Obat apa saja yang sudah diminum kemarin, Pak?” tanya dr. Nirma.
“Saya kasih minum Mixagrip, Bu,” jawab Samsul.
Menurut Samsul, pelayanan yang diterimanya terasa berbeda. Ia menilai tenaga medis di praktik tersebut bersikap profesional, komunikatif, dan tidak mempersulit pasien dengan prosedur tambahan yang berbelit.
“Saya bersyukur. Pelayanannya baik, tidak banyak pertanyaan yang menyulitkan. Fokusnya langsung ke kondisi anak saya,” ungkapnya.
Pengalaman ini kemudian dibandingkannya dengan pelayanan di Klinik Estet Melenyu 2, tempat ia bekerja. Sebelumnya, ia mengaku pernah mengalami kesulitan administrasi saat membawa keluarganya berobat, yang menurutnya membuat proses penanganan menjadi lambat.
Peristiwa ini menimbulkan tanda tanya besar terkait standar pelayanan kesehatan di lingkungan perusahaan. Ketika seorang karyawan memilih menempuh perjalanan jauh, menerobos hujan, serta mengeluarkan biaya pribadi demi mendapatkan layanan yang lebih cepat dan manusiawi, publik tentu bertanya: ada apa dengan sistem pelayanan klinik internal?
Pelayanan kesehatan perusahaan sejatinya menjadi garda terdepan perlindungan bagi pekerja dan keluarganya. Jika akses dan prosedur justru dirasakan menyulitkan, maka perlu ada evaluasi menyeluruh—baik dari sisi kebijakan, prosedur administrasi, hingga pendekatan komunikasi tenaga medis kepada pasien.
Samsul berharap ke depan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah perusahaan benar-benar hadir sebagai solusi, bukan menjadi hambatan.
“Harapan saya sederhana. Kami ini karyawan, kami butuh kepastian kalau keluarga kami sakit bisa langsung ditangani dengan cepat dan manusiawi,” tutupnya.
(Samsul Daeng Pasomba.PPWI/Tim)

.png)

